Jumat, 12 Juli 2013

Artikel Kewarganegaraan



“Kehidupan Glamor Para Pejabat Selebritis”




 
Oleh :
Ajeng Katriana Putri
037112356
2-H


Dewasa ini semakin banyak kalangan artis yang menjadi Politikus. Tak banyak yang meresahkan hal tersebut, ada beberapa pendapat yang menyatakan mereka kurang setuju karena meragukan para artis dalam bidang politik. Padahal tak banyak pula artis yang berprestasi di bidang politik. Saat ini masyarakat di resahkan dengan tingkah kehidupan para politikus selebritis yang glamor, tidak hanya terlihat dalam pakaian atau semata kendaraan yang di gunakan sehari-hari, namun kehidupan di rumahnya yang rata-rata mewah yang sangat meresahkan masyarakat.Bakal calon legislatif kalangan selebritis harus melepaskan diri dari kebiasaan hedonisme atau kehidupan glamor yang selama ini kerap melekatnya. Menurut pengamat politik dan peneliti dari sebuah lembaga mengatakan “Dunia politik jauh berbeda dengan dunia entertaiment atau seni. Terlebih lagi, sebagai seorang wakil rakyat harus menjadi tauladan sekaligus mewakili aspirasi rakyat atau konstituennya”.
Seseorang yang ahli dalam bidang politik menghimbau kepada para calon legislatif selebritis agar mempersiapkan diri sebelum terjun di dunia politik “Karena politik itu keras, sehingga membutuhkan persiapan yang matang dan harus konsisten dengan konstitusinya, tidak tergiur dengan kepentingan pribadi dan mengorbankan kepentingan konstituennya”.
Munculnya fenomena kalangan selebritis menjadi calon legislatif dapat mengancam sistem politik yang memadai. Bahkan, kualitas demokrasi 2014 pun diduga turut menurun. “Fenomena ini akan mengancam sistem politik yang memadai. Dan yang lebih membahayakan lagi jika nanti mereka banyak terpilih, akan mengancam kualitas demokrasi 2014” ujar seorang pengamat sosial sebuah Universitas di Jakarta. Beliau menuturkan, ancaman ini jelas dengan melihat kualitas caleg selebritis yang belum memiliki jaminan kualitas. Padahal, menurutnya belajar dari pengelaman sebelumnya tidak sedikit kalangan selebritis yang menjadi legislatif, namun hanya beberapa yang terlihat mempuni.
Dengan rendahnya kualitas atau kemampuan legislatif para caleg selebritis ini tentu akan mengancam sistem politik. Karena fungsi kontrol legislatif terhadap eksekutif akan lemah.

Menurut saya, dari pembahasan sebelumnya dapat dilihat kesalahan bukan hanya terjadi karena ulah para pejabat selebritis ataupun pejabat yang salah menggunakan kewenangannya, namun dari masyarakatnya pun harus dilakukan sosialisasi yang benar-benar membuat rakyat melek akan dunia politik yang pastinya akan mempengaruhi kehidupannya.Seyogyanya kita pasti dapat menilai politisi yang baik dan jujur itu yang bagaimana, masyarakat harus cerdas dalam memilih pemimpinnya. Dengan bantuan dari organisasi-organisasi yang mengembangkan sosialisasi tentang politik maka masyarakat akan lebih bisa memilih, mereka tidak akan salah pilih.
Dibalik itu semua, pemerintah harus benar-benar dapat menyeleksi mana bakal calon legislatif dari kalangan selebritis yang mempuni dalam bidang politik. Tidak banyak para legislatif dari kalangan selebritis yang dapat dikatakan gagal dalam memimpin rakyatnya, tapi ada beberapa pula dari kalangan selebritis yang terlihat bagus.
Seseorang yang akan menjadi tauladan, contoh dan pemimpin bagi rakyatnya haruslah jujur, bijaksana dan adil dalam bertindak. Selain itu para calon legislatif selebritis juga harus merubah mindsetatau pola pikir yang benar-benar berangkat dari niat membangun dan membenahi bangsa ini, ujar seseorang dalam diskusi di gedung KPU.
Masyarakat dalam memilih seorang pemimpin bukanlah yang banyak memberikan uang namun yang dirasa mampu memberikan kesejahteraan bagi keseluruhan dan bukan dengan banyak janji namun diikuti oleh bukti. Sebenarnya politisi dari kalangan salebritis tidak salahnya digunakan untuk dapat mempengaruhi rakyat, namun harus dipilih pula caleg dari kalangan selebritis yang berpengalaman dan mempunyai andil baik dalam bidang politik .Manusia tidak ada yang sempurna, namun tidak ada salahnya manusia itu berusaha menjadi yang terbaik bagi banyak orang disekitarnya yang membutuhkan.
Masyarakat dikalangan bawah yang harus menjadi sorotan penting bagi seorang pemimpin, mendegarkan keluhan rakyat kecil dan memberi kesejahteraan. Bukan hanya mereka yang bisa hidup mewah atau lebih dari cukup, namun rakyat bawah pun berhak atas kebahagiaan baik batin ataupun jasmaninya.
Dapat disimpulkan bahwa ranah politik bukanlah ajang main-main bagi seorang calon legislatif terutama dari kalangan selebritis. Mereka boleh memiliki latar belakang dari berbagai kalangan, namun tujuan menjadi anggota legislatif adalah sebagai tauladan dan akan mewakili aspirasi rakyatnya. Pemilihan calon legislatif pun tak lepas dari peran masyarakat itu sendiri, disini masyarakat akan menentukan akan kemana bangsa Indonesia kelak. Kita sebagai rakyat harus bisa memilih-milih pemimpin yang baik bagi kita selama menjabat sebagai Pejabat. Sebaiknya kita tidak tergiur dengan kata-kata manis ataupun uang yang mereka berikan, sebagai pemilih jadilah pemilih yang arif dan cerdas. Bila kita salah dalam memilih akibatnya pun akan kita terima.
Dengan kehidupan selebritis yang menjadi caleg itu rata-rata galmor namun kita tidak menyalahkan hal tersebut, karena itu adalah privasi bagi mereka. Namun pemimpin yang profesional akan dapat membagi waktunya antara kesenangan pribadi dan rakyatnya.
Masing-masing kita memliki privasi sendiri dan tidak mau untuk di usik, biarkanlah mereka hidup dengan keglamorannya, sering menggunakan barang mewah dan lain-lain, itu tidak akan berpengaruh dengan jabatannya bila mereka dapat konsisten.
Pilihlah caleg yang berpengalaman dalam berpolitik dan dapat di percaya, caleg yang kuat iman, jujur, bijaksana, dan amanah. Ketua dari suatu Lembaga berpendapat “Memang rakyat miskin ini karena ulah elite. Elite itu mulai dari kepala daerah kabupaten/kota dan propinsi termasuk elite yang mempunyai kewenangan untuk kepentingan pribadi da golongan”.
Namun tidak semua anggota dewan memiliki kebiasaan hidup mewah, karena mereka banyak yang sudah kaya sebelum menjadi anggota dewan. Tapi tidak semua memiliki harta berlimpah, karena ada yang meminta agar gaji mereka tidak dipotong untuk keperluan partainya.seorang pengamat politik mengatakan “Jalan satu-satunya, mencerdaskan pemilih. Menjadikan pemilih yang cerdas, tidak memilih karena uang atau popularitas. Maka itu kalangan akademisi, LSM, Ormas, atau mahasiswa harus turun memberikan pendidikan politik. Karena hanya mengandalkan parpol saja tidak bisa”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar